Pages

Saturday, January 5, 2013

Pengaruh Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman terhadap Perilaku Tertib Berlalulintas di Kalangan Pelajar SMA Negeri 01 Batu


BAB I

PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang Masalah

Banyak di antara para pengendara sepeda motor yang mengetahui program safety riding yang sering dipublikasikan oleh berbagai pihak, khususnya pihak kepolisian lalu lintas. Namun sepertinya pengenalan dan kampanye konsep safety riding saja tidaklah cukup untuk menjelaskan kepada pengendara kendaran bermotor mengenai keselamatan di jalan raya. Pelanggaran–pelanggaran kecil sampai besar pun masih banyak ditemui. Misalnya saja, pengendara sepeda motor yang hanya memakai helmnya jika ada polisi lalulintas. Di sini sepertinya pemakaian helm dianggap suatu kewajiban yang jika dilanggar akan mendapat sanksi. Padahal seharusnya pemakain helm bukan dilandasi karena rasa takut pada polisi atau yang lainnya, melainkan kemauan dan kesadaran diri akan keselamatan dirinya sendiri.   
            Safety riding hanya dijadikan teori, tanpa ada praktek langsung di lapangan. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kepahaman, kesadaran, dan penerapan cara aman berkendaraan (safety riding). Kurangnya etika berlalulintas pun dapat menjadikan tidak kondusifnya susasana di jalan raya, sikap toleransi antar pengguna jalan tidak diterapkan. Hal tersebut akan mengurangi tingkat ketertiban pengendara sepeda motor di jalan raya. Ketidaktertiban ini banyak atau sedikit akan menimbulkan dampak negatif bagi dirinya sendiri maupun pengguna jalan lain. Hal itu menyebabkan semakin besarnya peluang terjadinya kecelakaan di jalan sehingga menyebabkan banyaknya korban dari  tahun ke tahun, khususnya di kalangan pelajar.

1.2        Rumusan Masalah

Di dalam suatu penelitian akan muncul suatu pokok permasalahan yang menjadi arah dalam penelitian. Dalam penelitian ini, permasalahan dirumuskan sebagai berikut :
o   Apakah ada pengaruh antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap ketertiban berlalu lintas di kalangan pelajar?

1.3        Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan rumusan masalah sebagaimana dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
o   Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap ketertiban berlalu lintas di kalangan pelajar.

1.4        Manfaat penelitian

Mengingat tujuan penelitian di atas, maka manfaat di dalam penelitian ini adalah :
a.        Sebagai bahan referensi bagi kalangan akademis.
b.      Sebagai bahan masukan bagi penelitian serupa di masa yang akan datang.
c.       Sebagai bahan pembanding penelitian lain dengan variabel berbeda.
d.      Untuk memperkaya khasanah studi ilmiah.
e.       Sebagai bahan pertimbangan kepada Kepolisian dan instansi terkait dalam upaya menegakkan ketertiban di jalan raya.




BAB II

KAJIAN TEORI



2.1     Kajian Mengenai Tingkat Kesadaran Manusia
Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan yang lain. Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Manusia dengan dikaruniahi akal budi merupakan mahluk hidup yang sadar dengan dirinya. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia kesadaran dalam diri, akan diri sesama, masa silam, dan kemungkinan masa depannya. Perkembangan kesadaran manusia berlangsung pada tiga tahap, yakni sensansi (pengindraan), perseptual (pemahaman), dan konseptual (pengertian) (www.wikipedia.com).
Agus Mustofa (dalam Khairul, 2006) menyatakan bahwa :
Kesadaran inderawi adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Kesadaran rasional. Setelah indera kita tak mampu lagi menjelaskan, manusia bisa naik ke tingkat kesadaran berikutnya yaitu kesadaran rasional. Kesadaran rasional ini menggunakan pikiran untuk menjangkau sesuatu yang tak terjangkau indera. Pada kesadaran rasional inilah muncul pengetahuan ilmiah.
Kesadaran spiritual. Ketika manusia bahkan dengan pikiran rasionalnya tak mampu lagi membuat penjelasan, maka dia akan naik ke tingkat kesadaran spiritual, yaitu menyadari adanya sesuatu yang maha dahsyat di balik semua yang tak terjangkau rasio itu. Inilah kesadaran yang mengakui keberadaan Tuhan. Di sinilah muncul pengetahuan nurani atau suara hati.

2.2     Kajian Mengenai Kesadaran Berlalulintas
Kesadaran adalah sebuah fakultas mental yang memberikan manusia kemampuan memahami rasionalitas dan kehendak bebas dan memungkinkan adanya pelbagai penafsiran tentang realitas (Takwin dalam Djibran, 2007). Artinya, kesadaran berperan memahami dan menentukan kehendak dan sikap kita secara rasional dalam menghadapi realitas disekeliling kita.
Pertumbuhan sepeda motor di Indonesia terus bertambah, seiring dengan kebutuhan transportasi yang efisien dan terjangkau. Beberapa alasan yang sering diutarakan adalah irit bahan bakar, bebas macet, sanggup membawa barang, membawa orang, dan harganya terjangkau. Dari tengah kota hingga sudut-sudut desa sepeda motor mudah ditemukan. Ironisnya, keefisienan sepeda motor tersebut justru berimplikasi pada semakin arogannya pengendara sepeda motor. Dengan memahami bahwa kesadaran berperan dalam memahami dan menentukan kehendak dan sikap manusia dalam menafsirkan realitas disekitarnya, dapat dijelaskan bahwa arogansi para pengendara di jalan raya, tentunya disebabkan oleh rendahnya tingkat kesadaran para pengendara ketika menafsirkan realitas disekitarnya. Artinya, semakin tinggi tingkat kesadaran para pengendara, semakin tinggi pula tingkat kesadaran sosial para pengendara yang pada gilirannya akan melahirkan kehendak dan sikap yang rasional pula (Pradita Tria Wirawan, Etika Berkendara dan Cerminan Budaya Bangsa, 2008).

2.3     Kajian Mengenai Safety Riding 
Dalam pengenalan konsep safety riding, pengendara sepeda motor akan dikenalkan dengan berbagai perangkat keselamatan, pengujian ketrampilan berkendara, pengenalan karakteristik kendaraan, dan pengenalan mengenai etika dasar berkendara di jalan raya. Langkah awal ini penting untuk menyadarkan pengendara kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor akan resiko berkendara sehingga dapat meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan di jalan raya.
a. Atribut yang harus dikenakan saat  berkendara sepeda motor (Safety Apparels)
1. Helm
Helm yang baik adalah yang menutup kepala secara penuh (full face) atau terbuka di bagian rahang (half face), sebaiknya mampu memberikan proteksi lebih kepada kepala. Tali pengikat helm harus dipasang dan dikencangkan secara benar untuk mencegah helm terlepas saat jatuh.
2. Pakaian  
Jaket lengan panjang dan celana panjang yang pas dan nyaman di tubuh pengendara  saat mengendarai sepeda motor. Sebaiknya mampu melindungi seluruh bagian tubuh baik dari terpaan angin maupun efek negatif apabila terjadi benturan baik kecil maupun besar.
3. Sepatu
Sepatu haruslah mampu memberikan kenyamanan serta keamanan bagi seluruh lapisan kaki. Sebaiknya mempunyai tinggi melewati mata kaki dan berpelindung  tepat pada mata kaki.
4. Sarung Tangan
Sebaiknya memiliki lapisan yang dapat menutupi kedua belah tangan dan bahan yang dapat menyerap keringat serta tidak licin saat memegang ip/handle motor.
 b. Pengecekan kondisi sepeda motor
    1. Kaca Spion
Memastikan posisi kaca spion dengan benar untuk mendapatkan pandangan   yang lebih  luas dan memasang lengkap kedua spion (kiri dan kanan).
2. Rem
Memeriksa rem depan dan belakang apakah berfungsi secara normal, khususnya rem depan  karena lebih efektif dalam pengereman.
3. Sistem kelistrikan
      Memastikan bahwa sistem kelistrikan yang meliputi lampu sein, lampu rem, lampu depan, dan klakson berfungsi dengan baik.
4. Ban
   Memeriksa tekanan angin ban sesuai standard dan memeriksa keausan alur ban. Ban yang aus dan tekanan angin yang tidak sesuai akan menyebabkan jarak pengereman  semakin panjang dan pengendalian menjadi tidak stabil saat menikung.
5. Jika ada suku cadang yang harus diganti, hendaknya segera menggantinya.
6. Rantai sepeda motor
Ketegangan ratai sepeda motor harus diperiksa. Jangan terlalu kendor dan jangan pula terlalu kencang. Rantai sepeda yang terlalu kencang akan cepat merusak kendaraan.
c. Membawa surat – surat kendaraan saat berkendara sepeda motor, yaitu SIM
     dan STNK.
Surat Tanda Nomor Kendaraan atau disingkat STNK adalah tanda bukti pendaftaran dan pengesahan suatu kendaraan bermotor berdasarkan identitas dan kepemilikannya yang telah didaftar. STNK berisi identitas kepemilikan (nomor polisi, nama pemilik, alamat pemilik) dan identitas kendaraan bermotor.

2.4     Kajian Mengenai Perilaku Tertib Berlalulintas
Perilaku tertib berlalulintas meliputi segala tindakan yang patuh dan taat terhadap peraturan–pertaturan lalulintas. Seorang yang tertib berlalu lintas biasanya mengerti akan rambu–rambu dan etika berlalulintas di jalan raya. Hal ini dapat ditumbuhkan melalui penanaman sikap kedisiplinan tinggi di jalan raya.
Selama ini, masyarakat Indonesia belum terbiasa untuk menumbuhkan sikap tertib di berbagai bidang, termasuk di jalan raya. Akibatnya adalah terjadi banyak pelanggaran dan upaya untuk menyiasati sebuah peraturan tertentu di jalan raya. Dampak lanjutannya adalah, pengendara akan lebih memprioritaskan faktor kecepatan daripada faktor keselamatan dalam berkendara.
Budaya tertib di jalan akan berbuah etika berkendara yang baik sehingga memunculkan sikap untuk saling mengerti, memahami, dan toleransi antar sesama pengguna jalan. Tertib berlalulintas tersebut dapat kita lihat dari tindakan pengendara di jalan raya, misalnya menaati traffic lights, menyalakan lampu kendaraan di siang hari, tidak berkendaraan secara ugal-ugalan, dsb.
Pada akhirnya, etika yang baik dalam berkendara dapat meminimalirsir terjadinya kecelakaan yang dapat menimbulkan banyak kerugian baik materi maupun immateri, seperti hilangnya nyawa seseorang. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan suasana keamanan dan kenyamanan dalam berkendara, maka diperlukan etika berkendara yang ditopang oleh sikap disiplin dan tertib pengendara kendaraan.

2.5              Hipotesis
Setelah melakukan kajian teori maka peneliti dapat berhipotesa bahwa:
  ”Ada pengaruh antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap perilaku  tertib berlalu lintas di kalangan pelajar SMA Negeri 01 Batu”. 



BAB III

METODE PENELITIAN



3.1              Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan atau melukiskan fenomena atau hubungan antar fenomena yang diteliti dengan sistematis (Kusmayadi dan Endar Sugiarto, 2000). Sedangkan untuk mencari hubungan antar fenomena yang diteliti digunakan analisis korelasi.
3.2              Populasi dan Sampel
Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMA Negeri 01 Batu tahun pelajaran 2009/2010 yang mengendarai sepeda motor sebanyak 323 orang (pada saat penelitian dilakukan). Sedangkan sampel yang digunakan adalah sebanyak 10% dari jumlah populasi yaitu 32 orang yang diambil dengan cara acak sederhana.

3.3              Definisi Operasional Variabel
Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dalam penelitian ini, maka dilakukan operasionalisasi variabel sebagai berikut :
1. Tingkat kesadaran berkendara yang aman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengecekan kelengkapan surat kendaraan, penggunaan perlengkapan berkendaraan (helm, jaket, sepatu, dan sarung tangan), serta pengecekkan kondisi sepeda motor berupa kaca spion, lampu sein, lampu rem, rantai, ban, dan pelumas.
2. Perilaku tertib yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas, penggunaan jalur di lajur kiri, menyalakan lampu kendaraan roda dua di siang hari, pemberian tanda saat akan berbelok atau menyalip, dan cara mengemudi yang tidak ugal-ugalan.
                                           
3.4              Alat Pengumpulan Data
Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner (dapat dilihat pada lampiran).
a.  Instrumen tingkat kesadaran berkendara yang aman
Pada instrumen ini, kita dapatkan beberapa indikator, yaitu pengetahuan dan kesadaran aman berkendara yang meliputi pengecekan kelengkapan surat kendaraan, penggunaan perlengkapan berkendaraan (helm, jaket, sepatu, dan sarung tangan), serta pengecekkan kondisi sepeda motor berupa kaca spion, lampu sein, lampu rem, rantai, ban, dan pelumas.
Instrumen ini menggunakan teknik skala likert yang dimodifikasi, yakni dengan empat pilihan jawaban yang bergradasi. Masing-masing butir pertanyaan diberi skor sebagai berikut : selalu = 4, sering = 3, jarang = 2, tidak pernah = 1. Kecuali pertanyan nomor satu, skor didasarkan pada jumlah jawaban yang dipilih.
b. Instrumen perilaku tertib berlalu-lintas
Instrumen perilaku tertib berlalulintas memiliki beberapa indikator, yaitu ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas, ketaatan pada traffic lights, penggunaan jalur di lajur kiri, menyalakan lampu kendaraan di siang hari, pemberian tanda saat akan berbelok atau menyalip, dan cara mengemudi yang tidak ugal-ugalan.
Instrumen ini menggunakan teknik skala likert yang dimodifikasi, yakni dengan empat pilihan jawaban yang bergradasi. Masing-masing butir pertanyaan diberi skor sebagai berikut : selalu = 4, sering = 3, jarang = 2, tidak pernah = 1.

3.5              Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif yang berupa distribusi frekuensi. Sedangkan untuk menganalisis hubungan antara penerapan program safety riding dengan perilaku tertib di kalangan pelajar menggunakan analisis tabulasi silang. 

 

  BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1           Penyajian Data
a.  Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman (Variabel X)
Pada instrumen ini, kita menggunakan beberapa indikator, yaitu pengetahuan dan kesadaran aman berkendara yang meliputi pengecekan kelengkapan surat kendaraan, penggunaan perlengkapan berkendaraan (helm, jaket, sepatu, dan sarung tangan), serta pengecekkan kondisi sepeda motor berupa kaca spion, lampu sein, lampu rem, rantai, ban, dan pelumas.
Secara tabulasi disajikan pada data berikut :
Tabel 1: Tabel Distribusi Frekuensi Variabel Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman
No.
Indikator Variabel X
Skor
1
2
3
4
f
f%
f
f%
f
f%
f
f%
1.
Sumber pengetahuan tentang safety riding
12
37,50
10
31,25
4
12,50
6
18,75
2.
Frekuensi mendapat pengetahuan tentang safety riding
5
15,62
12
37,50
2
6,25
13
40,62
3.
Penambahan pemahaman tentang safety riding
2
6,25
14
43,75
10
31,25
6
18,75
4.
Penggunaan helm standar dengan benar
0
0
3
9,38
7
21,88
22
68,75
5.
Penggunaan perlengkapan (atribut) saat berkendaraan
3
9,38
19
59,38
9
28,12
1
3,13
6.
Pemasangan spion lengkap
12
37,50
9
28,12
2
6,25
9
28,12
7.
Pemeriksaan kondisi sepeda motor
8
25
13
40,62
7
21,88
4
12,50
8.
Pembawaan surat berkendara (SIM dan STNK)
4
12,50
9
28,12
1
3,13
18
56,25
Sumber: Data primer diolah
Dilihat dari indikator sumber pengetahuan tentang safety riding, sebagian besar responden (37,5%) menyatakan bahwa sumber tentang konsep safety riding diperoleh dari satu sumber saja, antara lain sosoialisasi kepolisian, TV atau radio, melihat spanduk atau poster di jalan-jalan, atau informasi dari orang lain. Untuk indikator frekuensi mendapat pengetahuan tentang safety riding, responden paling banyak menyatakan bahwa memperoleh pengetahuan tersebut lebih dari enam kali 40,62%). Responden paling banyak menayatakan bahwa setiap kali mereka mendapat pengetahuan tentang safety riding, pemahaman mereka akan konsep safety riding jarang bertambah (43,75%).
Mayoritas responden menyatakan bahwa selalu menggunakan helm standar dengan benar saat berkendaraan. Hal ini ditunjukkan dengan prosentase sebesar 68,75%. Responden paling banyak menyatakan bahwa jarang menggunakan atribut berkendaraan (jaket, sepatu, dan sarung tangan) yang ditunjukkan dengan prosentase sebesar 59,38%. Pada indikator pemasangan spion dengan lengkap, responden paling banyak menyatakan tidak pernah memasangnya dengan lengkap (37,5%). Kebanyakan dari mereka hanya memasang spion kanan saja. Responden sebanyak 40,62% menyatakan bahwa jarang memeriksa kondisi kendaraan mereka. Sementara untuk indikator pembawaan SIM dan STNK, mayoritas responden menyatakan bahwa selalu membawanya saat berkendara (56,25).
Secara umum perolehan total skor pada variabel X disajikan pada tabel berikut:
Tabel 2: Tabel Distribusi Frekuensi Total Skor Variabel Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman
Jumlah Skor (∑X)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Presentase Kumulatif (%)
13
2
6.25
6.25
15
1
3.13
9.38
17
3
9.38
18.75
18
3
9.38
28.13
19
3
9.38
37.50
20
3
9.38
46.88
21
3
9.38
56.25
22
1
3.13
59.38
23
7
21.88
81.25
25
1
3.13
84.38
26
3
9.38
93.75
27
2
6.25
100.00
32
100.00

 Sumber: Data primer diolah
            Dari jawaban responden dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu sangat baik, cukup baik, dan kurang baik didasarkan pada rumus (Anas Sudijono, 1999) berikut :
Sangat baik     =  mean + 1.SD =  20,81 + 1.2,60 = 23,41
Kurang baik    =  mean - 1.SD =  20,81 - 1.2,60 = 18,21

Tabel 3: Tabel Frekuensi Kategori Variabel Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman
Kategori
f
f%
Sangat baik
6
18.75
Cukup baik
17
53.13
Kurang baik
9
28.13
32
100
Sumber: Data primer diolah
Hasil perhitungan diperoleh nilai Mean sebesar 20,81 dan standar deviasi (SD) sebesar 2,60. Sehingga diperoleh hasil untuk kategori sangat baik adalah responden yang mempunyai jumlah skor di atas 23,41 , kategori cukup baik dengan skor berkisar antara 18,21 – 23,41 , dan kategori kurang baik dengan skor di bawah 18,21. Dengan demikian subyek yang menyatakan kesadaran berkendara yang aman kategori sangat baik sebanyak 6 orang atau sebesar 18,75%, dalam kategori cukup baik sejumlah 17 orang (53,13%), dan dalam kategori kurang baik sejumlah 9 orang dengan persentase sebesar 28,13%, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kesadaran berkendara yang aman  di kalangan pelajar SMAN 01 Batu  dapat dikatakan cukup baik.
Untuk lebih jelasnya perolehan nilai variabel tingkat kesadaran berkendara yang aman di  SMAN 01 Batu  dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2:Diagram Nilai Variabel Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman
b. Perilaku Tertib Berlalulintas (Variabel Y)
            Instrumen perilaku tertib berlalulintas memiliki beberapa indikator, yaitu ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas, ketaatan pada traffic lights, penggunaan jalur di lajur kiri, menyalakan lampu kendaraan di siang hari, pemberian tanda saat akan berbelok atau menyalip, dan cara mengemudi yang tidak ugal-ugalan.
Secara tabulasi disajikan pada data berikut :
Tabel 4: Tabel Distribusi Frekuensi Variabel Perilaku Tertib Berlalulintas
No.
Indikator Variabel Y
Skor
1
2
3
4
f
f%
f
f%
f
f%
f
f%
1.
Ketaatan pada rambu lalulintas
1
3,13
6
18,75
8
25
17
53,13
2.
Penggunaan lajur kiri saat berkendaraan
2
6,25
4
12,50
12
37,50
14
43,75
3.
Pemberian tanda saat akan berbelok atau menyalip
2
6,25
6
18,75
6
18,75
18
56,25
4.
Ketaatan pada traffic lights
2
6,25
2
6,25
7
21,88
21
65,62
5.
Menyalakan lampu di siang hari
20
62,50
8
25
1
3,3
3
9,8
6.
Cara mengemudi yang baik (tidak ugal- ugalan)
1
3.13
4
12,50
12
37,50
15
46,88
Sumber: Data primer diolah

Sebagian besar responden (53,13%) menyatakan bahwa selalu menaati rambu-rambu lalulintas. Untuk indikator Y yang kedua, responden paling banyak menyatakan bahwa selalu menggunakan lajur kiri saat berkendaraan (43,75%). Responden paling banyak juga menayatakan bahwa selalu memberi tanda dengan lampu sein saat akan berbelok atau menyalip kendaraan di depannya (56,25%).
Mayoritas responden menyatakan bahwa tidak pernah menyalakn lampu di siang hari saat berkendaraan. Hal ini ditunjukkan dengan prosentase sebesar 62,50%. Sementara untuk indikator cara mengemudi yang baik, sebagian besar responden menyatakan selalu mengemudi dengan baik atau tidak ugal-ugalan.
Secara umum perolehan total skor pada variabel X disajikan pada tabel berikut:
Tabel 5: Tabel Distribusi Frekuensi Total Skor Variabel Perilaku Tertib Berlalulintas
Jumlah Skor (∑X)
Frekuensi (f)
Presentase (%)
Presentase Kumulatif (%)
7
1
3.13
3.13
9
1
3.13
6.25
14
2
6.25
12.50
15
2
6.25
18.75
16
1
3.13
21.88
17
3
9.38
31.25
18
9
28.13
59.38
19
3
9.38
68.75
20
2
6.25
75.00
21
2
6.25
81.25
22
4
12.50
93.75
24
2
6.25
100.00
32
100.00

Sumber: Data primer diolah
           
Dari jawaban responden dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu sangat baik, cukup baik, dan kurang baik  menggunakan rumus sebagai berikut:
Sangat baik     =  mean + 1.SD =  18,06 + 1.3,11 = 21,17
Kurang baik    =  mean - 1.SD =  20,81 - 1.3,11 = 14,95

Tabel 6: Tabel Frekuensi Kategori Variabel Perilaku Tertib Berlalulintas
Kategori
f
f%
Sangat baik
6
18.75
Cukup baik
22
68.75
Kurang baik
4
12.50
32
100
Sumber: Data primer diolah

Hasil perhitungan diperoleh nilai Mean sebesar 18,06 dan standar deviasi (SD) sebesar 3,11. Sehingga diperoleh hasil untuk kategori sangat baik adalah responden yang mempunyai jumlah skor di atas 21,17 , kategori cukup baik dengan skor berkisar antara 14,95 – 21,17 , dan kategori kurang baik dengan skor di bawah 14,95. Dengan demikian subyek yang menyatakan perilaku tertib berlalulintas kategori sangat baik sebanyak 6 orang atau sebesar 18,75%, dalam kategori cukup baik sejumlah 22 orang (68,75%), dan dalam kategori kurang baik sejumlah 4 orang dengan persentase sebesar 12,50%, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kesadaran berkendara yang aman  di kalangan pelajar SMAN 01 Batu  dapat dikatakan cukup baik.
Untuk lebih jelasnya perolehan nilai variabel perilaku tertib belalulintas SMAN 01 Batu dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3:Diagram Nilai Variabel Perilaku Tertib Berlalulintas

4.2  Pembuktian Hipotesis
   Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap perilaku tertib berlalulintas. Metode pembuktiannya adalah dengan tabulasi silang antara variabel X dan variabel Y yang ditunjukkan pada tabel berikut:
    Tabel 7: Tabel Tabulasi Silang Hubungan antara Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman (X) terhadap Perilaku Tertib Berlalu Lintas Pelajar SMA Negeri 01 Batu (Y)
Y
X
Sangat Baik
Cukup Baik
Kurang Baik
Sangat Baik
3 = 9,38%
3 = 9,38%
-
Cukup Baik
3 = 9,38%
13 = 40,62%
1 = 3,13%
Kurang Baik
-
6 = 18,75%
3 = 9,38%
Sumber: Data primer diolah

Dari hasil tabulasi silang tersebut, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang menyatakan tingkat kesadaran berkendara yang aman dengan kategori cukup baik berdampak pada perilaku tertib berlalulintas yang cukup baik pula (40,62%). Hal ini membuktikan bahwa ada korelasi positif antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap perilaku tertib berlalulintas yang ditunjukkan dengan prosentase sebesar 40,62%. Analisis tabulasi silang yang telah dilakukan tersebut, dapat menunjukkan bahwa hipotesis peneliti yakni ada pengaruh antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap perilaku tertib berlalulintas terbukti.

4.3       Pembahasan
Kesadaran berperan dalam memahami dan menentukan kehendak dan sikap kita secara rasional dalam menghadapi realitas disekeliling kita. Dengan memahami bahwa kesadaran berperan dalam memahami dan menentukan kehendak dan sikap manusia dalam menafsirkan realitas disekitarnya, dapat dijelaskan bahwa ketidaktertiban pengendara sepeda motor di jalan raya, tentunya disebabkan oleh rendahnya tingkat kesadaran para pengendara ketika menafsirkan realitas disekitarnya. Artinya, semakin tinggi tingkat kesadaran para pengendara, semakin tinggi pula tingkat kesadaran sosial para pengendara yang pada gilirannya akan melahirkan kehendak dan sikap yang rasional pula.
Seiring dengan adanya hubungan antara tingkat kesadaran dengan perilaku yang diaplikasikan di sekelilingnya, maka dengan meningkatkan kesadaran berkendara yang aman, maka perilaku tertib di jalan akan bertambah. Saat ketertiban di jalan bertambah, maka suasana aman dan terkendali dalam berkendara akan semakin baik serta dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan lalulintas, khususnya di kalangan pelajar.



BAB V

PENUTUP



5.1                          Simpulan
Dari penelitian yang telah peneliti lakukan maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap ketertiban berlalu lintas di kalangan pelajar. Di mana dari hasil tabulasi silang yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang menyatakan tingkat kesadaran berkendara yang cukup baik berdampak pada perilaku tertib berlalulintas yang cukup baik pula dengan prosentase sebesar 40,62%. Sehingga dari penelitian ini dapat diketahui adanya korelasi positif antara tingkat kesadaran berkendara yang aman dengan perilaku tertib berlalulintas yang ditunjukkan dengan persentase sebesar 40,62% .

5.2              Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Diharapkan agar sertiap anggota masyarakat khususnya pelajar dapat lebih memahami, menyadari, serta menerapkan cara berkendara yang aman agar tercipta kondisi lalulintas yang tertib dan aman.
2. Kepolisian dan instansi yang terkait dapat lebih menggencarkan sosialisasi program safety riding sebagai upaya meningkatkan kesadaran aman berlalulintas, sehingga dapat menekan angka kecelakaan dan menegakkan ketertiban di jalan raya.

2 comments :

 

BUB UGU RU Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos