Pages

Thursday, January 17, 2013

PENGGUNAAN EM5 SEBAGAI PESTISIDA ORGANIK YANG EKONOMIS DAN RAMAH LINGKUNGAN



BAB  I

PENDAHULUAN


1.1                 Latar Belakang
Dalam dunia pertanian saat ini, berbagai kendala sosial, ekonomi, dan teknis bermunculan.  Masalah organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama, penyakit, dan  gulma, mengakibatkan penurunan produksi pertanian. Maka dari itu, diperlukan solusi untuk membasmi OPT tersebut hingga produksi pertanian dapat diperoleh secara maksimal.
Zat kimia anti hama atau yang lebih sering disebut pestisida dijadikan salah satu andalan para petani untuk mengatasi itu semua. Penggunaan pestisida telah dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan produksi. Pestisida merupakan sarana yang sangat diperlukan, terutama digunakan untuk melindungi tanaman  dan hasil tanaman. Bahkan sebagian besar petani beranggapan bahwa pestisida adalah “dewa penyelamat”, sebab dengan bantuan pestisida, petani dapat terhindar dari kerugian akibat serangan pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit, maupun gulma. Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu meningkat dengan pesat.
Meskipun penggunaan pestisida makin ditingkatkan , masalah hama-hama tidak dapat diatasi, malah makin mengganas. Pestisida juga menimbulkam masalah lingkungan seperti matinya makhluk bukan sasaran (ikan, ular, katak, belut, serangga penyerbuk, dll.) dan musuh alami (predator, parasitoid), residu pestisida dalam bahan makanan, keracunan pada manusia, pencemaran air, tanah, dan udara, serta ongkos produksi yang sangat mahal dan sia-sia.
Pestisida sering mendatangkan dampak negatif terutama bagi lingkungan. Namun, usaha tani (agribisnis) tanpa pestisida tidak bisa dihentikan begitu saja. Pertambahan jumlah penduduk mengharuskan adanya peningkatan produksi tanaman. Di satu pihak dengan pestisida kimia, kehilangan hasil pertanain akibat OPT dapat ditekan, tetapi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di pihak lain, tanpa pestisida kimia akan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT.

1.2       Rumusan Masalah
Di dalam suatu penelitian akan muncul suatu pokok permasalahan yang menjadi arah dalam penelitian. Dalam penelitian ini, permasalahan dirumuskan sebagai berikut :
1.2.1        Bagaimana upaya mengatasi masalah lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia?
1.2.2        Apa keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan EM5 sebagai pestisida organik terhadap lingkungan?

1.3       Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan rumusan masalah sebagaimana dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1        Untuk mengetahui bagaimana upaya mengatasi masalah lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia.
1.3.2        Untuk mengetahui apa saja keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan EM5 sebagai pestisida organik terhadap lingkungan.

1.4       Manfaat Penelitian
Mengingat tujuan penelitian di atas, maka manfaat di dalam penelitian ini adalah :
1.4.1        Sebagai bahan referensi bagi kalangan akademis.
1.4.2        Sebagai bahan pembanding penelitian lain dengan variabel berbeda.
1.4.3        Untuk memperkaya khasanah studi ilmiah.
1.4.4        Sebagai informasi kepada masyarakat, khususnya petani tentang cara menyiasati masalah lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia.
1.4.5        Sebagai bahan pertimbangan bagi petani dalam upaya penanggulangan hama yang ekonomis dan ramah lingkungan.


BAB II

KAJIAN TEORI


2.1       Kajian Mengenai Pestisida
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu (www.wikipedia.com).
Hama yang menyerang tanaman atau hewan sangat banyak jenisnya karena itu orang membuat bermacam-macam pestisida. Umumnya satu pestisida sangat ampuh terhadap satu jenis hama. Berdasarkan jenis hama yang akan diberantas, pestisida dapat digolongkan menjadi 4, yaitu :

·         Insektisida       : pestisida pencegah dan pembunuh serangga.
·         Fungisida        : pestisida untuk jamur.
·         Rodentisida     : pestisida pencegah dan pembasmi tikus.
·         Herbisida         : pestisida pencegah dan pembasmi tanaman.

Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic.
Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria. Sedangkan penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timah diketahui mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke-15.
Penggunaan pestisida terus meningkat lebih dari 50 kali lipat semenjak tahun 1950, dan sekarang sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiap tahunnya (Miller dalam Samsudin, 2008).
Beberapa dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia pada lahan pertanian yang telah diketahui diantaranya,  mengakibatkan resistensi hama sasaran, terbunuhnya musuh alami, tanah dan hasil pertanian mengandung residu pestisida (DDT, endrin, lindane, endosulfan, dll.), mencemari lingkungan, gangguan kesehatan bagi pengguna manusia, bahkan beberapa pestisida disinyalir memiliki kontribusi pada fenomena pemanasan global (global warming) dan penipisan lapisan ozon (Reynolds dalam Samsudin, 2008).

2.2       Kajian Mengenai Pestisida Organik
Pestisida organik adalah pestisida yang diyakini ramah lingkungan sehingga lebih sedikit menyebabkan kerusakan pada ekosistem dan kesehatan hewan (www.wikipedia.com). Mekanisme kerja pestisida organik ini bersifat racun kontak, racun perut, maupun bersifat sistemik. Pestisida organik berfungsi sebagai zat pembunuh, penolak, pengikat dan penghambat pertumbuhan OPT.
Pestisida botani atau pestisida organik bahan aktifnya berasal dari berbagai produk metabolik sekunder dalam tumbuhan. Misal Rotenon dari akar tuba (Derris eliptica) dan Azadarachtin dari mimba (Azadirachta indica). Pestisida organik lainnya menggunakan ekstrak alami untuk mengusir bukan membunuh hama. Beberapa produk menggunakan bawang putih atau cabai dan minyak esensial dari rempah-rempah seperti cengkeh untuk mengusir serangga dan hama lain.
Pestisida organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:
  • Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga, misalnya dengan bau yang menyengat.
  • Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  • Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa.
  • Menghambat reproduksi serangga betina.
  • Racun saraf.
  • Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga.
  • Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga.
  • Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri.

Pestisida organik memiliki beberapa keunggulan, yaitu tidak mencemari lingkungan, degredasi atau penguraian yang cepat (masa aktif residu lebih pendek), toksisitas (daya racun) umumnya lebih rendah, selektivitas tinggi, cara kerja yang berbeda dengan pestisida kimia, serta mudah dilaksanakan dan murah.

2.3       Kajian Mengenai Effective Microorganisms-4 (EM4)
            EM4 merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan, bermanfaat bagi kesuburan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman, serta ramah lingkungan. EM4 mengandung mikroorganisme fermentasi dan sintetik yang terdiri dari bakteri asam laktat (Lactobacillus sp), bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas sp), Actinomycetes sp, Streptomyces sp, yeast (ragi), dan jamur pengurai selulose untuk memfermentasi bahan organik tanah menjadi senyawa organik yang mudah diserap oleh akar tanaman.
            Teknologi EM4 adalah teknologi budidaya pertanian untuk meningkatkan kesehatan serta kesuburan tanah dan tanaman, dengan menggunakan mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
Teknologi EM4 ditemukan pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang. Teknologi ini telah diterapkan secara luas di negara-negara lain di seluruh dunia, seperti Amerika, Brasil, Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Philipina, Malaysia, Bhutan, Myanmar, Bangladesh, Srilanka, India, Pakistan, Selandia Baru, dan Pakistan.
Penerapan teknologi EM4 merupakan suatu teknologi alternatif yang memberikan peluang selus-luasnya untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi tanaman pertanian dengan cara sinergis yang dapat menekan populasi hama dan penyakit tanaman, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah secara efektif dan meningkatkan kesehatan pertumbuhan tanaman.

2.4       Kajian Mengenai Effective Microorganisms-5 (EM5)
            EM5 atau kepanjangan dari Effective Microorganisms-5 adalah salah satu pestisida organik yang dalam pembuatannya menggunakan teknologi EM4.
Dengan mengembangkan produk EM4 menjadi EM5, bisa diperoleh pestisida dengan cara yang mudah. Cara pembuatan larutan EM5 adalah sebagai berikut :
Bahan-bahan   :
·         EM4                                                   : 100 ml                      
·         Molase (gula tetes tebu)                     : 100 ml / ½ ons
·         Alkohol 40%                                      : 100 ml
·         Cuka makan                                       : 100 ml
·         Air cucian beras yang pertama           : 1000 ml
·         Jahe, lengkuas, kencur, kunyit           : masing-masing 1 jempol tangan
·         Brotowali                                           : 10 cm
·         Bawang merah                                   : 3-5 siung besar
·         Bawang putih                                                : 5-10 siung besar
·         Sereh                                                  : 2 batang
·         Daun mimba                                      : 1-2 ons

Cara Pembuatan :
·         Hancurkan semua bahan rempah-rempah dengan menggunakan alat penumbuk/blender. Untuk membantu proses penghancuran dengan blender, gunakan air cucian beras yang pertama.
·         Setelah semua bahan rempah hancur, masukkan ke dalam botol/jerigen (termasuk ampasnya). Masukkan pula bahan-bahan yang lain secara berurutan, dimulai dari cuka makan, alkohol, molase, dan terakhir larutan EM4, lalu kocok sampai merata.
·         Simpan dalam suhu  ruangan, dalam kondisi botol/jerigen tertutup. Kocok setiap pagi dan sore hari. Buka tutup botol untuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi berlangsung.
·         15 hari atau setelah tidak ada gas yang terbentuk, pengocokkan dihentikan. Biasanya EM5 yang sudah jadi berbau sedap yang khas. Bila baunya tak sedap (bau busuk), tandanya pembuatan EM5 gagal.
·         iarkan lagi selama 7 hari, baru EM5 bisa digunakan.
·         EM5 harus disimpan di tempat yang relativf dingin, gelap, dan suhu ruangan relatif stabil.
·         EM5 harus sudah digunakan dalam waktu 3 bulan setelah dibuat.

Cara pemakaian :
EM5 digunakan dengan cara disemprotkan ke seluruh tanaman dengan konsentrasi 5-10 ml/liter air. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari, menjelang matahari terbenam.   Untuk kebutuhan bahan dengan jumlah yang lebih besar, bahan-bahan disiapkan secara proporsional dengan komposisi yang sama dengan di atas. Penyemprotan tanaman dengan EM5 sebaiknya dilakukan secara teratur, misalnya setiap minggu sekali, pada sore hari atau setelah hujan lebat. Akan tetapi jika tanaman kita telah diserang hama sebaiknya penyemprotan dilakukan setiap hari.

2.5       Kajian Mengenai Pencemaran
Pencemaran adalah suatu gejala masuknya zat-zat atau komponen lain ke dalam lingkungan, sehingga kualitasnya menurun sampai tingkat tertentu. Pencemaran juga menyangkut perubahan tatanan lingkungan dari segi fisik, kimia, dan biologis oleh kegiatan manusia maupun proses alam. Pencemaran banyak terjadi dan terlihat pada air, laut, tanah atau lahan, dan udara.
Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.
Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.
Pada pencemaran air, penyebabnya secara umum dapat dikategorikan menjadi sumber kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA (Tempat Pembuangan Akhir), dan sebagainya. Sumber tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah, atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air tanah mengandung mengandung sisa dari aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfer juga berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan asam.
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial, penggunaan pestisida, masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan, kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.      


BAB III

METODE PENULISAN


3.1       Metode Penulisan
            Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif. Menurut Nawawi (1993: 63) metode deskriptif merupakan usaha untuk memecahkan masalah dengan membandingkan persamaan dan perbedaan gejala yang ditemukan, mengukur dimensi, suatu gejala, mengadakan klasisifikasi gejala, menilai gejala, menetapkan standar, menetapkan hubungan antar gejala-gejala yang ditemukan. Adapun tujuan dari penulisan deskriptif adalah untuk membuat gambaran atau deskripsi mengenai objek yang dikaji.
            Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji informasi mengenai penggunaan EM5 sebagai pestisida organik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia.

3.2       Fokus Penulisan
            Penulisan ini difokuskan :
3.2.1             Upaya mengatasi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia yang difokuskan pada larutan EM5.
3.2.2             Penggunaan larutan EM5 yang meliputi aspek : manfaat terhadap lingkungan.

3.3       Instrumen Penulisan
            Instrumen pada penulisan ini yaitu berupa data-data baik hard cover maupun soft copy yang diperoleh dari berbagai media cetak dan elektronik seperti internet, majalah, jurnal, artikel, buku, serta instrmen lain yang mendukung mengenai penggunaan EM5 sebagai pestisida organik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia.

3.4       Metode Pengumpulan Data
            Metode pengumpulan data yang digunakan untu mengkaji masalah yang dibahas dalam penulisan ini adalah studi pustaka (study literature), yaitu dengan cara menelusuri literatur yang ada dari berbagai sumber, atau dengan melihat dan menyelidiki data-data tertulis yang ada dalam buku, majalah, situs internet, artikel, dan sebagainya. Kemudian literatur yang telah diperoleh tersebut dikaji atau ditelaah. Yang terakhir adalah menyimpulkan poin-poin yang akan mendukung dalam menganalisa permasalahan yang dibahas.

3.5       Metode Analisis Data
Penulisan karya tulis ini diawali dengan mengumpulkan data-data yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Metode analisis data yang digunakan, disesuaikan dengan rumusan masalah secara sistematis sehingga memiliki informasi yang bisa serta mudah untuk ditelaah.
Dalam penulisan ini, penulis akan membahas tentang masalah-masalah atau fokus penulisan mengenai penggunaan EM5 sebagai pestisida organik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia.



BAB IV

PEMBAHASAN


4.1       Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan yang Disebabkan oleh Penggunaan Pestisida Kimia
Dewasa ini, penggunaan pestisida  semakin meningkat di kalangan para petani. Sebagian besar masih menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama sangat efektif.
Pestisida sebagai bahan beracun, termasuk bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Pencemaran dapat terjadi karena pestisida menyebar melalui angin, melalui aliran air dan terbawa melalui tubuh organisme yang dikenainya. Residu pestisida sintesis sangat sulit terurai secara alami. Bahkan untuk beberapa jenis pestisida, residunya dapat bertahan hingga puluhan tahun. Dari beberapa hasil monitoring residu  yang dilaksanakan, diketahui bahwa saat ini residu pestisida hampir ditemukan di setiap tempat lingkungan sekitar kita. Kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap  organisma bukan sasaran. Oleh karena sifatnya yang beracun serta relatif persisten di lingkungan, maka residu yang ditinggalkan pada lingkungan menjadi masalah.
Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan terhadap dampak negatif akibat penggunaan pestisida, perlu adanya upaya pengawasan pengamanan pestisida. Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali. 
PHT adalah suatu cara pendekatan/cara berfikir/falsafah pengendalian hama didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam kerangka pengelolaan agroekosistem secara keseluruhan. Konsep PHT merupakan suatu konsep atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama konvensional yang selama ini sangata tergantung pada pestisida.
Upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap input bahan kimiawi (pestisida) dalam proses produksi pertanian dapat ditempuh melalui gerakan pertanian organik. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menciptakan produk pertanian yang bersih meliputi :
·         Penggunaan varietas unggul tahan hama penyakit dan tekanan / hambatan lingkungan.
·         Penerapan teknik budidaya yang mampu mengendalikan OPT dan penggunaan pupuk organik.
·         Peramalan terhadap serangan hama penyakit.
·         Pengendalian OPT secara biologis.
·         Memacu penggunaan pestisida botani.

Selain itu, untuk mengatasi dampak negatif penggunaan pestisida kimia, dapat digunakan pestisida alami atau bahan-bahan nabati (back to nature). Indonesia cukup kaya akan potensi tanaman penghasil racun untuk  memberantas organisme pengganggu tanaman. Pemanfaatan potensi pestisida alami tersebut dapat diwujudkan melalui teknologi tradisional maupun teknologi modern.

4.2       Penggunaan EM5 sebagai Pestisida Organik
Di alam, serangga dapat dipisahkan menjadi dua golongan berdasarkan sifat-sifatnya, yaitu serangga bersifat sebagai hama/parasit dan serangga pencegah hama/predator. Pada serangga pencegah hama (predator) secara alami ia memangsa serangga-serangga hama. Dia bisa demikian karena di dalam tubuhnya ada zat antioksidan.
Pada serangga pencegah hama, bila terkena semprotan EM5 justru zat antioksidan ini akan menjadi lebih aktif dan kuat. Namun sebaliknya pada serangga hama yang terkena semprotan EM5, maka badannya menjadi keriput/kisut/berkerut, kemudian tidak mau makan dan akhirnya mati. Jika serangga hama tetap makan tanaman yang disemprot EM5 berarti juga makan zat antioksidan, maka pertumbuhannya menjadi terhambat/kurang. Bahaya serangan serangga hama akut tetap terhindar.
Pembuatan EM5 dapat dicampur dengan bahan rempah-rempah (jahe, kunyit, kencur, sereh, dan sebagainya) untuk memberi aroma khusus. EM5 yang dicampur dengan ekstrak rempah-rempah menjadi lebih efektif. Penambahan ekstrak bahan organik yang mengandung obat-obatan seperti bawang putih, merica, lidah buaya, buah muda hasil penjarangan dan rumput-rumput muda tertentu sangat dianjurkan. Pencampuran EM5 dengan rempah rempah jenis tertentu dengan tujuan untuk memberikan aroma khusus yang tidak disukai serangga. Rempah-rempah dan jenis tanaman obat juga mengandung antioksidan.
Penyemprotan EM5 dimulai sejak perkecambahan tanaman sebelum hama menyerang. Namun perlu diperhatikan, biasanya tanaman tertentu tidak tahan daunnya disemprot dengan campuran yang mengandung alkohol. Daun muda biasanya akan terbakar dan pertumbuhan menjadi kurang baik, terutama bagi tanaman semusim. Tanda-tandanya ada bintik terbakar pada daun.

4.2.1      Keuntungan dari Penggunaan EM5
Tidak seperti pestisida kimia lainnya, penggunaan EM5 dengan dosis yang berlebihan tidak menimbulkan efek residu. Bahkan sebaliknya semakin banyak bakteri EM5 yang kerja lembur akan meningkatkan timbulnya zat antioksidan yang berarti semakin memperkuat daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Dengan demikian penggunaan obat-obatan bagi tanaman  berkurang dan justru malah tidak diperlukan lagi, jadi jelas lebih efisien.
Keunggulan EM5 yang lain adalah bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Bahan-bahan terebut ekonomis dan mudah didapat. Pertama EM4,  kini EM4 sudah banyak beredar di pasaran, sehingga produk tersebut tidak sulit didapat. Harganya pun relatif terjangkau. Demikian pula cuka makan dan alkohol, semuanya tidak terlalu sulit untuk didapat.
Begitu juga rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, kencur, kunyit, sereh, bawang putih, dan sebagainya. Semuanya mudah didapat, mengingat Indonesia adalah negara yang kaya akan rempah-rempahnya.
Limbah pabrik dan rumah tangga yang sudah tidak digunakan pun menjadi bermanfaat dalam pembuatan EM5 ini. Seperti molase dan air cucian beras. Molase adalah gula tetes limbah dari pabrik gula yang merupakan sisa proses pengkristalan gula pasir. Molase ternyata memiliki kandungan zat yang berguna. Zat-zat tersebut antara lain kalsium, magnesium, potasium, dan besi. Black strap memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi, karena terdiri dari glukosa dan fruktosa. Berbagai vitamin terkandung pula di dalamnya.
Air cucian beras merupakan suatu limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga. Namun tetapi air cucian beras dapat dimanfaatkan, karena air cucian beras mengandung glukosa sebesar 21,89%, kandungan karbohidrat 19,70% (Ari Fatmawati, 2008).
Jadi, dapat diketahui bahwa penggunaan EM5 sebagai pestisida organik lebih efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan dibanding pestisida kimia.

4.2.2 Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan yang Disebabakan oleh Pestisida Kimia dengan EM5
 Pencemaran pestisida dapat terjadi bila pestisida digunakan secara berlebihan. Tanah di sekitar tanaman akan tercemar dan membunuh makhluk kecil dalam tanah. Akibatnya tanah menjadi keras dan tandus.
Pencemaran air oleh pestisida terjadi melalui aliran air dari tempat kegiatan manusia yang menggunakan pestisida dalam rangka memperbanyak produksi pertanian. Kadar pestisida dalam air yang tinggi dapat membunuh organisme air antara lain ikan dan udang. Pada kadar yang rendah pestisida dalam air meracuni organisme kecil. Organisme kecil yang telah teracuni oleh pestisida itu, kemudian dimakan oleh ikan dan udang. Akibatnya ikan dan udang mengalami dua kali keracunan yaitu melalui insangnya dan melalui makanannya. Selanjutnya ikan dan udang yang keracunan itu ditangkap dan dimakan oleh manusia. Dengan demikian, manusia juga akan keracunan pestisida.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.
EM5 adalah alah satu pestisida organik yang dalam pembuatannya menggunakan teknologi EM4. Teknologi EM4 adalah teknologi budidaya pertanian untuk meningkatkan kesehatan serta kesuburan tanah dan tanaman, dengan menggunakan mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
Mikroorganisme yang terkandung dalam EM5 dapat memfermentasi bahan organik tanah menjadi senyawa organik yang mudah diserap oleh akar tanaman. Mikroorganisme tersebut tidak mencemari tanah dan air di sekitar tanaman. Bahkan beberapa mikroorganisme tersebut bermanfaat bagi kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.
Komposisi EM5 yang lain juga berasal dari alam seperti daun mimba, sereh, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kencur, kunyit, dan brotowali, sehingga EM5 aman bagi lingkungan. Bahan-bahan alami tersebut mengalami degredasi atau penguraian yang cepat dibanding zat kimia yang terdapat pada pestisida sintesis.
Beberapa bahan dalam pembuatan EM5 pun ada yang berupa limbah, seperti molase yang merupakan limbah pabrik gula dan air cucian beras yang termasuk limbah rumah tangga. Pemanfaatan kembali limbah tersebut tentu dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
Cara kerja EM5 pun selektif hanya pada serangga yang merupakan hama tanaman. Serangga pencegah hama atau musuh alami hama tersebut tidak ikut terbunuh jika terkena semprotan EM5. Ekosistem pun tidak terganggu dengan adanya penyemprotan tanaman oleh EM5.


BAB V

PENUTUP


5.1       Simpulan
            Berdasarkan permasalahan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa upaya mengatasi masalah lingkungan oleh penggunaan pestisida kimia yang sulit terdegradasi secara alami salah satunya dengan menyubtitusi penggunaan penggunaam pestisidia kimia dengan pestisida organik.
            Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan EM5 sebagai pestisida organik adalah :
·         Tidak menimbulkan efek residu, sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan.
  • Selektivitas tinggi (hanya berfungsi pada hama penyerang).
  • Bermanfaat bagi kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.
·         Dapat mengatasi masalah pencemaran lingkungan oleh pestisida kimia.
·         Mudah dipraktekkan dan ekonomis.

5.2       Saran
Berdasarkan pembahasan dan simpulan, dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut :
·         Diharapkan agar masyarakat, khususnya petani berinisiatif untuk meggunakan pestisida organik sebagai bahan subtitusi pestisida kimia.
·         Di masa yang akan datang diharapkan penggunaan pestisida akan berkurang dan lebih selektif, serta didukung oleh adanya penemuan-penemuan baru yang lebih efektif dalam mengatasi gangguan dari jasad pengganggu tanaman.


Gambar beberapa bahan  yang digunakan dalam pemembuatan EM5
EM 4
Rempah-rempah
Daun mimba
Daun brotowali
            
Molase


No comments :

Post a Comment

 

BUB UGU RU Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos