Pages

Thursday, June 6, 2013

Gus Udin, Tokoh Penyelamat Lingkungan Kota Batu

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
            Kota Batu sudah terkenal sejak abad ke IX akhir Masehi, sebagai Kota Wisata karena keindahan pemandangan alamnya. Kota Batu merupakan salah satu daerah yang dikelilingi oleh pengunungan yang ada di wilayah Jawa Timur, yang secara geografis merupakan daerah tropis. Udara segar nan sejuk dan dikelilingi bukit-bukit indah menjadi daya tarik tersendiri jika di banding kota-kota lain di Indonesia.
            Namun sayangnya, Kota Batu kini tidak sesejuk dahulu. Hutan-hutan banyak yang digunduli demi kepentingan ­­­­­­­­­­­­­­­segelintir orang. Seperti di desa Toyomerto, Kota Batu, mereka menebang pohon untuk mencukupi kebutuhan mereka. Alasan ekonomi sering dijadikan alasan para penjarah kayu tersebut dalam melakukan aksinya. Hampir semua lahan hijau di Kota Batu berubah menjadi beton. Pemerintah seperti hanya memikirkan fisik, tanpa memikirkan kondisi lingkungan.
            Berawal dari keprihatinannya melihat hutan di Kota Batu yang semakin hari semakin menggundul, serta kecemasan melihat masyarakat yang kerap menebangi pohon di hutan untuk dijual dan dijadikan kayu bakar, Gus Udin, seorang tokoh masyarakat Kota Batu, tak keberatan tanahnya seluas 5.000 meter persegi di Gunung Bale, Desa Songgokerto, digunakan untuk mengatasi penggundulan hutan.
            Melalui komunitasnya yang bernama Komunitas Merah Putih, lahannya di Baleagung Nusantara Emas telah disulap menjadi kawasan "Pohon Kebijaksanaan". Dari upayanya ini, sudah tampak hasilnya yakni penebangan pohon menurun drastis, bahkan boleh dibilang sudah tidak ada lagi. Selain itu, warga setempat berbondong-bondong menyatukan komitmen dengan Gus Udin.
           
1.2       Rumusan Masalah
Di dalam suatu penelitian akan muncul suatu pokok permasalahan yang menjadi arah dalam penelitian. Dalam penelitian ini, permasalahan dirumuskan sebagai berikut :                
1.2.1    Bagaimana cara Gus Udin menyelamatan lingkungan Kota Batu?
1.2.2    Apa peranan Gus Udin terhadap lingkungan Kota Batu?

1.3       Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan rumusan masalah sebagaimana dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1    Untuk mengetahui bagaimana cara Gus Udin menyelamatan lingkungan Kota Batu.
1.3.2    Untuk mengetahui peranan Gus Udin bagi lingkungan Kota Batu.

1.4       Manfaat Penelitian
Mengingat tujuan penelitian di atas, maka manfaat di dalam penelitian ini adalah:
1.4.1         Sebagai bahan referensi bagi kalangan akademis.
1.4.2        Untuk memperkaya khasanah studi ilmiah.
1.4.3        Sebagai informasi kepada masyarakat, khususnya masyarakat tentang pentingnya lingkungan.
1.4.4        Sebagai bahan masukan bagi pemerintah untuk merealisasikan program penghijauan.
 
BAB II
KAJIAN TEORI
 
2.1       Kajian Mengenai Kota Batu
            Kota Batu adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur. Kota ini terletak 15 km sebelah barat Kota Malang, berada di jalur Malang-Kediri dan Malang-Jombang. Kota Batu berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara, serta dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, selatan, dan barat (www.wikipedia.com).
Pembagian wilayah kota Batu terdiri dari 3 kecamatan dan 23 desa/ kelurahan. Ketiga kecamatan itu adalah : Kecamatan Batu dengan luas 46,377 km², Kecamatan Bumiaji dengan wilayah yang paling luas, yaitu sekitar 130,189 km², dan Kecamatan Junrejo dengan luas 26,234 km².
Keadaan topografi Kota Batu memiliki dua karasteristik yang berbeda. Karakteristik pertama yaitu bagian sebelah utara dan barat yang merupakan daerah ketinggian yang bergelombang dan berbukit. Sedangkan karakteristik kedua, yaitu daerah timur dan selatan merupakan daerah yang relatif datar meskipun berada pada ketinggian 800-3000 m dari permukaan laut.
Sebagai layaknya wilayah pegunungan yang wilayahnya subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki panorama alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri.

2.2       Kajian Mengenai Gus Udin
            Nama Syaifuddin Zuhri, yang akrab dipanggil Gus Udin, amat lekat dengan kepedulian terhadap keselamatan lingkungan. Tokoh masyarakat di Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu, itu tak keberatan tanahnya seluas 5.000 meter persegi di Gunung Bale, Desa Songgokerto, digunakan untuk mengatasi penggundulan hutan.
            Berawal dari keprihatinannya melihat hutan di Kota Wisata berhawa sejuk, Batu yang semakin hari semakin menggundul, serta kecemasan melihat masyarakat yang kerap menebangi pohon di hutan untuk dijadikan kayu bakar, pria kelahiran 4 April 1967 itu sengaja menjual tanah miliknya di Gunung Bale untuk menghimpun dana, guna merawat pohon serta kegiatan sosial dengan melibatkan elemen masyarakat setempat.
Baginya, melihat kawasan hutan kembali menghijau adalah cita-citanya sejak kecil, hal ini supaya bangsa ini bisa selamat dan kembali mempunyai potensi hutan yang lebat. Aktivitasnya sehari-hari yang sangat dekat dengan alam, adalah bagian dari keinginanya sejak berusia 23 tahun lalu. Menurut Gus Udin, pendekatannya dengan alam adalah bagian dari pendekatannya kepada Sang Pencipta. Baginya, hutan harus kembali ijo royo-royo agar negeri ini bisa selamat dan kembali tegak sebagai negara. Dia prihatin karena luas hutan semakin menyempit akibat penggundulan dan pembalakan liar.
Syaifuddin Zuhri atau Gus Udin mulai belajar mengenal lingkungan tanpa pamrih. Tidak pernah terpikir oleh pria paruh baya ini, untuk mendapatkan penghargaan lingkungan dari pemerintah, seperti pernah diajukkan oleh sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kota Batu. Apa yang dilakukannya hanyalah berasal dari keyakinannya, bahwa agama menganjurkan agar umat menyelamatkan alam dengan cara merawatnya. Oleh karena itu, saat akan mendapatkan penghargaan ia menolaknya, sebab apa yang dilakukan adalah sebuah panggilan hati.
            Gus Udin juga menggagas berdirinya Komunitas Merah Putih, suatu perkumpulan orang-orang yang sadar akan lingkungan. Selain Komunitas Merah Putih, Gus Udin mendirikan Komunitas Hamba Allah Bale Agung Kawitan di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, yang membina 25 anak yatim-piatu. Mereka diajari mencintai lingkungan dan manusia, serta dilatih agar mandiri setelah besar. Dana untuk membina anak-anak didapat dengan patungan atau swadaya masyarakat.


2.3       Kajian Mengenai Komunitas Merah Putih
Komunitas Merah Putih berakar dari masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Panderman, mengusung misi menyelamatkan lingkungan melalui kegiatan penghijauan dan krisis energi.
Gus Udin, pria berusia 44 tahun itu memang tidak melakukan sendirian untuk merealisasikan penghijauan yang dikemas dalam “pohon kebijakan”. Melalui lembaga Komunitas Merah Putih yang didirikannya pada 9 September 1999  lalu itu, Gus Udin bakal menghijaukan lereng Gunung Panderman itu dengan puluhan ribu pohon beringin dan belibis. Saat ini, pohon yang tertanam itu memang belum banyak karena Komunitas Merah Putih merencanakan menanam 20 ribu pohon beringin.
Kerja keras Gus Udin dengan Komunitas Merah Putih menuai sukses. Warga di sembilan desa ikut menanam beringin. Setelah program penghijauan dan pengadaan sapi berjalan, masyarakat pun diajak membangun masjid yang difungsikan sebagai tempat ibadah, pusat diskusi, dan musyawarah. Masjid yang terletak di Desa Bunder, Pujon, ini diberi nama Masjid Merah Putih. Masjid dibangun dengan swadaya masyarakat di atas tanah yang dihibahkan Sholeh Hadi, warga setempat. Untuk bahan fondasi, warga bergotong-royong memecah batu di sungai yang berjarak sekitar 500 meter.
Dedikasi Komunitas Merah Putih berbuah beberapa penghargaan. Dua di antaranya penghargaan Zamrud Khatulistiwa dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan penghargaan Pusaka Penunggu Mata Air Gunung Semeru dari Padepokan Sawung Nalar.

2.4       Kajian Mengenai Hutan
Hutan adalah suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan, rumput, jamur dan lain sebagainya serta menempati daerah yang cukup luas. Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang meiliki kawasan hutan yang sangat luas. Hutan memiliki banyak manfaat bagi kita semua. Hutan merupakan paru-paru dunia, sehingga perlu kita jaga karena jika tidak maka hanya akan membawa dampak yang buruk bagi kita di masa kini dan masa yang akan datang.
Hutan merupakan penyangga kehidupan, sehingga harus dimanfaatkan dengan bijak. Hutan mampu memproduksi oksigen yang kita hirup. Fungsi lain dari hutan adalah menyerap gas karbon dioksida sebagai salah satu gas penyebab global warming. Secara alami, lapisan humus tanah hutan mampu menangkap dan menyimpan air hujan sehingga banjir dapat dicehag di musim hujan. Sebaliknya hutan akan menjaga ketersediaan air saat musim kemarau sehingga tidak terjadi kekeringan. Akan tetapi pandangan para konglomerasi lokal dan internasional tentang hutan sangat berbeda. Bagi mereka fungsi hutan hanya untuk menghasilkan kayu.

2.5       Kajian Mengenai Penebangan Hutan
Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki hutan, merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Antara tahun 1990 sampai 2005, negara Indonesia telah kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan. Jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan akibat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar.
Efek dari berkurangnya hutan ini pun meluas, tampak pada aliran sungai yang tidak biasa, erosi tanah, dan berkurangnya hasil dari produk-produk hutan, dan masih banyak lagi. Penebangan hutan di Indonesia telah memperkenalkan beberapa daerah yang paling terpencil, dan terlarang, di dunia pada pembangunan.
Beberapa pendekatan neo-humanisme dalam  mencegah dan mengurangi terjadinya penebangan hutan adalah sebagai berikut:
  1. Penduduk lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan di hutan hujan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan hujan bisa jadi sangat merusak. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan dan penyuluhan kepada penduduk setempat tentang betapa pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan semua umat.
  2. Dalam hal penebangan hutan secara konservatif, dengan cara menebang pohon yang sudah tidak berproduktif lagi. Jangan sampai pohon yang masih muda dan masih berproduktif ditebang. Selanjutnya, setiap menebang satu pohon, harus seerag menagganti denagn menamam pohon kembali sebanyak satu pohon.
  3. Melakukan pembenahan terhadap sistem hukum yang mengatur tentang pengelolaan hutan menuju sistem hukum yang responsif yang didasari prinsip-prinsip keterpaduan, pengakuan hak-hak asasi manusia, serta keseimbangan ekologis, ekonomis, dan pendekatan neo-humanisme.
  4. Perlu adanya suatu program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian hutan. Melalui pendekatan neo-humanisme ini, juga perlu dibentuk suatu kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan kepada masyrakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan adanya keberadaan hutan tersebut.
  5. Melakukan program reboisasi secara rutin  dan pemantauan tiap bulannya dengan dikoordinir oleh tokoh-tokoh masyarkat setempat.
  6. Perlu adanya inovasi pelatihan keterampilan kerja di masyarakat secara gratis dan rutin dari pihak-pihak yang terkait, seperti Dinas Tenaga Kerja,dll, sehinnga masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan saja, tetapi dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan dimilkinya.


BAB III
METODE PENULISAN
 
3.1       Metode Penulisan
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif. Menurut Nawawi (1993: 63) metode deskriptif merupakan usaha untuk memecahkan masalah dengan membandingkan persamaan dan perbedaan gejala yang ditemukan, mengukur dimensi, suatu gejala, mengadakan klasifikasi gejala, menilai gejala, menetapkan standar, menetapkan hubungan antar gejala-gejala yang ditemukan. Adapun tujuan dari penulisan deskriptif adalah untuk membuat gambaran atau deskripsi mengenai objek yang dikaji.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji informasi mengenai Gus Udin sebagai sebagai tokoh penyelamat lingkungan Kota Batu.

3.2       Fokus Penulisan
            Penulisan ini difokuskan pada:
            3.3.1    Cara Gus Udin menyelamatkan lingkungan Kota Batu.
            3.3.2    Peranan Gus Udin terhadap lingkungan Kota Batu.

3.3       Instrumen Penulisan
            Instrumen utama pada penelitian ini yaitu berupa penelitian sendiri. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan catatan lapangan untuk mendukung informasi mengenai cara Gus Udin menyelamatkan lingkungan Kota Batu.

3.4       Metode Pengumpulan Data
            Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengkaji masalah yang dibahas dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
            3.5.1    Penelitian kepustakaan (Library Search)
Penulis menggunakan metode ini untuk mendasari kerangka berpikir, yaitu dengan cara menelusuri literatur yang ada dari berbagai sumber, yakni situs internet. Kemudian literatur yang telah diperoleh tersebut dikaji atau ditelaah.
           
3.5.2    Wawancara
Penulis juga mengumpulkan data dengan mewawancarai Gus Udin, tokoh masyarakat Kota Batu. Melalui wawancara, diharapkan dapat tercapai tujuan yang diharapkan dalam penulisan karya tulis ini.
           
3.5       Metode Analisis Data
Penulisan karya tulis ini diawali dengan mengumpulkan data-data yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Metode analisis data yang digunakan, disesuaikan dengan rumusan masalah secara sistematis sehingga memiliki informasi yang bisa serta mudah untuk ditelaah.
Dalam penulisan ini, penulis akan membahas tentang masalah-masalah atau fokus penulisan mengenai Gus Udin sebagai tokoh dalam menyelamatkan lingkungan Kota Batu


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Cara Gus Udin Menyelamatkan Lingkungan Kota Batu
Latar belakang Gus Udin ingin menyelamatkan lingkunagan bermula dari kecemasan melihat masyarakat yang kerap menebangi pohon di hutan di kawasan Kota Batu untuk mendapatkan kayu bakar sebagai pengganti pengganti bahan bakar minyak tanah yang susah didapat. Sedangkan gas elpiji masih gampang-gampang susah diperoleh.
Dia terus diliputi kekhawatiran. Jika hutan terus digunduli, bencana mengintai. Mata air banyak yang hilang. Masyarakat di sekitar Gunung Panderman, misalnya, ditimpa bencana tanah longsor setiap musim hujan, tapi seperti tak pernah kapok. Gus Udin tak henti menyadarkan masyarakat hingga penebangan pohon menurun drastis dan bahkan boleh dibilang sudah tidak ada lagi.
Tak banyak aktivis lingkungan yang merelakan lahan pribadinya untuk penghijauan. Melalui Komunitas Merah Putih, lahannya di Baleagung Nusantara Emas bakal disulap menjadi kawasan “pohon kebijakan”. Sebanyak 20 ribu bibit pohon beringin akan ditanam di kawasan tersebut.
Gus Udin sengaja menjual tanah miliknya di Gunung Bale untuk menghimpun dana untuk merawat pohon serta kegiatan sosial lainnya. Gus Udin melakukan penghijauan di lereng gunung Panderman tidak dilakukan sendirian. Gus Udin melakukannya, bersama sejumlah rekannya dalam komunitas yang didirikannya pada 9 September 1999. Dari rutinitasnya menanam, tercatat sebanyak 2.351 bibit pohon beringin dan belibis yang sudah tertanam di lahan seluas 5.500 m².
Pemilihannya untuk menunjuk pohon beringin sebagai pohon utama, bukannya tanpa alasan. Sebab, berdasarkan tinjauan sejarah, sejumlah raja terdahulu yang menanam pohon beringin bisa memunculkan sumber mata air baru. Selain itu, menurutnya beringin adalah pohon yang diperlukan di Kota Batu untuk menjaga pelestarian alam. Sebagaimana yang dikemukakannya sebagai berikut:
“Beringin adalah pohon yang kuat tahan lama. Akarnya panjang, besar, menjalar ke mana-mana, sehingga bisa melindungi mata air yang ada di dalam tanah. Akar tunggangnya mampu menembus hingga area artesis, sehingga sumber mata air akan kembali muncul. Selain itu, pohon beringin itu jarang ditebang karena kayunya tidak laku dijual. Pohon beringin juga tidak dimakan oleh hewan-hewan yang ada di hutan. Jadi intinya, beringin bermanfaat dalam jangka panjang (wawancara pada hari Minggu, 14 Maret 2010 di rumah Gus Udin).’’

Bersama Komunitas Merah Putih yang dibentuknya pada tanggal 9 September 1999 lalu, Gus Udin berupaya merealisasikan programnya. Program penghijauan yang dicanangkan Gus Udin dikaitkan dengan program ketahanan pangan dan kemandirian energi. Metodenya sederhana. Setiap pembeli atau donatur harus lebih dulu mempunyai niat beramal dengan menyisihkan rezeki Rp 250.000,- dengan imbalan sebidang tanah 1 meter persegi untuk menanam pohon. Donatur dibebaskan memilih pohon yang ia sukai, tetapi pohon utama yang disediakan adalah pohon beringin.
Nantinya, setiap donatur wajib menandatangani kontrak lingkungan yang disebut perjanjian "pohon kebijakan". Isinya, pohon tidak boleh ditebang, dan donatur harus berkomitmen pada masalah lingkungan, tidak boleh merusak hutan, dan menghibahkan tanah yang dibeli untuk konservasi hutan. Donatur pun akan mendapat sertifikat kepemilikan yang mencantumkan pohon yang ditanam atas nama diri sendiri. Selain itu, pihak donatur akan mendapatkan laporan tahunan mengenai perkembangan pohon yang ditanam.
Lahan pribadi yang dijadikan lahan penghijauan itu tidak hanya ditanami anggota Komunitas Merah Putih. Tapi, juga terbuka untuk umum. Saat ini sudah tercatat 400 penanam pohon beringin di kawasan tersebut. Para penanam pohon dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari aktivis lingkungan, kalangan pengusaha, masyarakat kecil, pelajar, anak yatim, pejabat tinggi negara, hingga tokoh partai politik.


4.2       Peranan Gus Udin bagi Lingkungan Kota Batu
Seperti diketahui, kondisi gunung-gunung makin tahun makin menyedihkan, mulai akibat penebangan liar maupun pertumbuhan perumahan dan bangunan tinggal yang makin bergerak ke atas, mencari lokasi yang sejuk dan view yang menawan. Belum lagi aktivitas-aktivitas lain di zaman modern ini yang mengakibatkan kerusakan lingkungan makin parah.
Pembangunan Kota Batu sebagai kota wisata kini semakin gencar. Tujuannya adalah untuk mengenalkan Batu sebagai kota sejuta pesona kepada masyarakat lokal maupun nasional. Namun sayangnya, pembangunuan tersebut justru berdampak negatif terhadap lingkungan Kota Batu sendiri. Sebagai bukti nyata, udara Kota Batu yang terkenal dingin dan sejuk tidak sedingin dahulu. Lahan hijau yang ada banyak yang digunakan sebagai lahan perumahan maupun bangunan yang lain.Bencana alam seperti tanah longsor dan banjir pun sering teradi di Kota Batu. Semua itu tidak terlepas dari kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri.
Melalui komunitasnya, lahan Gus Udin di Baleagung Nusantara Emas saat ini telah disulap menjadi kawasan "Pohon Kebijaksanaan". Dari upayanya ini, sudah tampak hasilnya yakni penebangan pohon menurun drastis, bahkan boleh dibilang sudah tidak ada lagi. Selain itu, warga setempat berbondong-bondong menyatukan komitmen dengan Gus Udin, yakni :

“Siapa yang menabur benih kebaikan, akan mendapatkan 7 tangkai pahala, dan masing-masingkai tangkai mengeluarkan buah yang berpahala sampai kepada anak cucu kita. Dan siapa yang mencuri, akan merugi samapai anak cucu kita.”

Saat ini, sekitar 7-8 ribu beringin yang sudah ditanam di lahan pribadi yang disumbangkan untuk keseimbangan lingkungan alam ini. Hingga saat ini, puluhan warga dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahakan daerah lain seperti Jakarta, Semarang, dan Medan  sudah mempunyai hutan dengan cara menghibahkan sebagian rezekinya lewat penanaman pohon di Gunung Bale. Setelah dihijaukan, beberapa mata air kembali mengalirkan air, seperti di Desa Oro-Oro Ombo, Pesanggrahan, Sidomulyo, Sisir, dan Songgokerto.
Gus Udin juga menjadi pelopor masyarakat Kota Batu untuk ‘menabung’ alam bagi anak-cucu kita di masa yang akan datang. Sehingga diharapkan ketersediaan air dapat tercukupi, seperti apa yang dikatkannya :
“Sekarang mungkin belum bisa dilihat hasilnya, tapi 5-10 tahun ke depan insyaallah bermanfaat. Namun masyarakat sekarang sudah lebih sadar akan lingkungan. Mereka tidak lagi menembaki burung yang ada di hutan. Penebangan hutan oleh warga pun sudah lebih banyak berkurang. Mereka mulai sadar akan nasib anak cucu mereka nanti. Bahkan banyak dari mereka yang ingin ikut bergabung dalam Komunitas Merah Putih(wawancara pada hari Minggu, 14 Maret 2010 di rumah Gus Udin).’’

Jadi, dapat dikatakan bahwa peran Gus Udin terhadap lingkungan Kota Batu adalah sebagai penyelamat lingkungan di masa kini dan di masa yang akan datang.

 

BAB V
PENUTUP
5.1       Kesimpulan
            Berdasarkan permasalahan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
5.1.1    Gus Udin melakukan penyelamatan lingkungan dengan mewakafkan tanahnya di kawasaan Baleagung untuk dijadikan lahan penghijauan. Penghijauan yang dilakukan Gus Udin dilakukan dengan cara menanam bibit pohon beringin di beberapa pegunungan di wilayah Kota Batu dan Malang Raya.
5.1.2    Melalaui Komunitas Merah Putih, Gus Udin melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk lebih peduli dengan alam sekaligus mengajak masyarakat untuk turut aktif dalam upaya penghijauan lingkungan.
5.1.3    Peran Gus Udin kepada lingkungan Kota Batu adalah sebagai penyadar serta aktivis lingkungan, sehingga banyak masyarakat yang menjadi lebih sadar akan pentingnya lingkungan.
5.1.4    Program penghijauan Gus Udin berhasil mengurangi kerusakan lingkungan di sebagian wilayah Kota Batu.

5.2       Saran
Berdasarkan pembahasan dan simpulan, dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut :
5.2.1    Diharapkan agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, khususnya hutan. Karena hutan dapat menyediakan kebutuhan yang kita perlukan untuk hidup, baik di masa sekarang, maupun masa yang akan datang.
5.2.2    Diharapkan pemerintah dan segenap elemen masyarakat tidak hanya menjadikan program penghijauan sebagai pendidikan dan formalitas belaka, namun lebih mengutamakan tindakan langsung di lapangan.
5.2.3    Diharapkan pembangunan yang kini gencar dilakukan pemerintah, khususnya pemerintah Kota Batu juga mempertimbangkan aspek lingkungan.


Catatan Hasil Wawancara

Narasumber     : Pak Syaifuddin Zuhri atau Gus Udin
Waktu             : Minggu, 14 Maret 2010

No.
Fokus Penelitian
Uraian Wawancara
1.
Alasan menyelamatkan lingkungan.
Penulis:
“Mengapa bapak berkeinginan mengadakan penyelamatan lingkungan Kota Batu?”
Gus Udin :
“Sebenarnya niat saya untuk alam ini ikhlas karena Allah. Saya sebagai penduduk bumi hanya merasa dititipi lingkungan ini oleh Allah. Semua pekerjaan jika dikerjakan dengan ikhlas pasti akan mendapat imbalan dari Allah yang lebih baik. Namun alasan yang lain, udara di Kota Batu sekarang panas, tidak seperti dulu. Padahal Kota Batu dulu itu sangat sejuk dan hijau.  Sekarang hutan-hutan banyak yang ditebangi. Padahal pepohonan di hutan melindungi mata air. Ibaratnya, 1 pohon itu menyediakan 1 liter air. Bisa dibayangkan, jika 1 pohon habis ditebang, berapa liter air yang terbuang. Apa kita tidak kasihan dengan anak cucu kita nanti, 10 tahun lagi? Lihat saja, di Batu sekarang semua lahan hijau hampir berubah menjadi beton. Kalau bukan kami rakyatnya yang sadar, siapa lagi? Pemerintah hanya mementingkan proyek, lalu mendapat untung dari proyek tersebut. Mereka seperti tidak memikirkan bagaimana kondisi lingkungan akibat dibanangunnya proyek-proyek itu. ”
2.
Upaya penyelamatan lingkungan Kota Batu.
Penulis:
“Upaya apa yang bapak lakukan untuk menyelamatkan lingkungan Kota Batu?”
Gus Udin :
“Semua ini karena Allah. Upaya-upaya yang saya mungkin hanya sebagain kecil dari penyelamatan lingkungan. Saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Merah Putih sudah mengadakan beberapa acara yang bertajuk lingkungan. Seperti wayangan dengan lakon Petruk bertaubat, taubat nasional, kunjungan dari Sultan Hamengkubuwono, dan 1001 kyai dalam seruan taubat bersama untuk negeri. Kegiatan ini sekaligus ajakan tobat bersama, karena kondisi alam kita yang semakin rusak dan bencana alam yang semakin akrab dengan kehidupan kita. Jika dipikir-pikir, kegitan-kegiatan tersebut membutuhkan dana yang cukup besar. Namun ada saja dana yang mengalir untuk kegitan ini. Yang terpenting, semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Alam akan bergerak untuk membantu. Untuk penanaman pohon beringin, Alhamdulillah sampai sekarang sudah ±17.000 pohon beringin sudah kami tanam. Semuanya tersebar di mana-mana. Seperti bapak ini (menunjuk seorang anggota Komunitas Merah Putih) sudah menanam beberapa pohon di daerah Pujon dan Lamongan.”
3.
Penggunaan pohon beringin untuk penghijauan.
Penulis:
“Mengapa bapak menggunakan pohon beringin, tidak pohon yang lain?”
Gus Udin :
“Kita menggunakan beringin bukannya ada kaitan dengan partai politik lho, tetapi pohon Beringin adalah pohon yang diperlukan di Kota Batu untuk menjaga pelestarian alam. Beringin adalah pohon yang kuat tahan lama. Akarnya panjang, besar, menjalar ke mana-mana, sehingga bisa melindungi mata air yang ada di dalam tanah. Akar tunggangnya mampu menembus hingga area artesis, sehingga sumber mata air akan kembali muncul. Selain itu, pohon beringin itu jarang ditebang, kayunya tidak laku dijual. Pohon beringin juga tidak dimakan oleh hewan-hewan yang ada di hutan. Jadi intinya, beringin itu bermanfaat dalam jangka panjang.”
4.
Lokasi penanaman pohon beringin.
Penulis:
“Di mana saja lokasi penanaman pohon beringin tersebut?”
Gus Udin :
“Di Gunung Bale, Kasiran, Gunung Banyak, ereng-ereng Kawi, banyak kok, pokoknya hampir seluruh gunung di Malang raya.”
5.
Komunitas Merah Putih.
Penulis:
“Bapak tadi menyebutkan Komunitas Merah Putih, bisa dijelaskan sedikit tentang komunitas tersebut?”
Gus Udin:
“Dalam komunitas Merah Putih itu tidak ada ketua. Anggota dari komunitas ini terbuka bagi siapa saja. Namun syarat utamanya adalah orang-orang yang sadar akan lingkungan dan nasib bangsa ini. Komunitas Merah Putih itu tidak hanya bagi wilayah Kota Batu saja. Anggota kita ada yang dari Sumatra, Medan, Semarang, Jakarta, dsb. Seluruh masyarakat di Indonesia boleh bergabung dalam komunitas ini. Yang terpenting, mereka harus sadar akan lingkungan dan nasib bangsa kita di masa yang akan datang.”
6.

Penulis:
“Bagaimana cara anggota Komunitas Merah Putih melaksanakan misi penyelamatan lingkungan tersebut?”
Gus Udin:
“Anggota komunitas kami yang berasal dari Jakarta, Medan, Semarang, Jogjakrta, yang juga berasal dari berbagai kalangan mulai dari pelajar, masyarakat setempat, anak yatim-piatu, pejabat, politikus, bahkan pejabat negara menanam pohon beringin di daerahnya masing-masing. Kami hanya memeberi bibit pohon beringin. Biar mereka sendiri yang menanam di dekat rumahnya, untuk melindungi mata air di daerah mereka. Untuk menanam pohon tersebut ada doanya, begini, “Allahumma astafani, bumi kang ngabekti, jagad kang paring berkah, siti pertelo, nglebur durbolo, ngelup sucakele poncoboyo. Nekakaken rejekine, ngedohaken blaine, pitung alas, pitung kursi. Kantuk berkahe para nabi, para wali, mboksri sedono ijo royo-royo, kadya sanggar warigin telogo mengo sualer miti, birohmatika ya arkhamarroohimin”, itu adalah doa Sunan Kalijaga saat menanam pohon beringin.
7.
Dampak kegiatan penanaman pohon beringin bagi lingkungan Kota Batu.
Peneliti:
“Setelah diadakan penanaman pohon beringin tersebut, apa dampaknya terhadap lingkungan Kota Batu, pak?”
Gus Udin:
“Sekarang mungkin belum bisa dilihat hasilnya, tapi 5-10 tahun ke depan insyaallah bermanfaat. Namun masyarakat sekarang sudah lebih sadar akan lingkungan. Mereka tidak lagi menembaki burung yang ada di hutan. Penebangan hutan oleh warga pun sudah lebih banyak berkurang. Mereka mulai sadar akan nasib anak cucu mereka nanti. Bahkan banyak dari mereka yang ingin ikut bergabung dalam Komunitas Merah Putih.”



2 comments :

  1. dapat salam dari pak dhe gus udin

    ReplyDelete
    Replies
    1. loh, iya a mas? waduh, jadi malu saya hehe
      maaf, sampean siapanya gus udin mas? hehe

      Delete

 

BUB UGU RU Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos